Pengalaman Hidup Memotivasi Maximus Tipigau Membuka STC

Spread the love

STC-Anak-anak Asli Papua, yang kebanyakan tidak menyelesaikan pendidikan, namun direkrut STC untuk mengikuti pelatihan. Tampak para peserta semangat mengikuti pelatihan. FOTO: IST/TimeX

TIMIKA,TimeX

Berawal dari pengalaman masa lalu yang sulit, karena tidak memiliki pendidikan yang tinggi, Maximus Tipagau berkesempatan menimbah ilmu lewat trainning center PT Freeport  Indonesia. Kini Somatoa Training Center (STC) dibuka dan menjadi pusat pelatihan yang mengutamakan Orang Asli Papua (OAP).

Baca juga : John Wempi Wetipo Dilantik jadi Wakil Mendagri

Maximus Tipigau Wakateyau, selaku Direktur STC kepada Timika eXpress di ruang kerjanya, Rabu(15/6) mengatakan  banyak orang Papua ingin bekerja namun minim pendidikan, karena itulah ia menghadirkan STC.

“Ini bukan sandiwara, bukan cari nama. Karena ini bicara tentang orang- orang yang ingin bekerja terutama  orang Papua namun minim pendidikan,” ungkapnya.

Menurutnya, anak-anak Papua kurang dibelaki dengan skill dan kompetensi sehingga sulit bersaing dalam dunia industri kerja seperti di Freeport dan proyek-proyek pemerintah. Akhirnya anggaran triliun yang ada dikuasai oleh segelintir orang.

“Dari emosi dan pengalaman itu saya dirikan STC. Saya sendiri berpengalaman 14 tahun di Freeport,  saya tukang kebun orang bule, tidak sekolah tinggi juga, tetapi melalui trainning center saya belajar dan akhirnya mampu bersaing dengan orang-orang yang sekolahnya tinggi. Bahkan dari apa yang saya pelajari, saya jadi instruktur, guru besar di tambang sebagai anak gunung, sebagai orang pedalaman, saya bisa jadi guru, ” ungkap Maximus Tipagau.

Berbekal guru di tambang yaitu Grasberg Operation dan masuk dalam jajaran instruktur terbaik di Mine Instruktur Nemangkawi, bersama perintis antara lain Silas Natkime, Trifena Tinal, dan menjadi termuda saat itu, membantu ratusan anak-anak Papua yang mahir di bidang  mekanik elektrik miner dan beberapa jurusan yang lain termasuk konstruksi.

“Saya punya pengalaman yang sangat berharga dimana lebih dari 21 orang asli dibantu karena punya kelebihan dan bisa mengoperasikan alat berat di dunia 797 dan 793 di Grasberg. Meski harus keluar karena tidak mampu bertahan dengan kondisi alam di atas,” tuturnya.

Ia menuturkan, pada Tahun 2010 dirinya memilih keluar dari Freeport dan mendirikan PT Mpaigelah termasuk operator pendakian gunung.

Dari situlah dirinya mendapatkankan ilmu tentang trainning, bagaimana orang yang tidak bisa menjadi mampu, bagaimana orang yang tidak sekolah menjadi bisa punya skill yang sama.

“Itu dasar dari pada saya mendirikan Training Center di Timika. Itu melatarbelakangi pengalaman saya sendiri dan tentu ada juga yang mempunyai pengalaman yang sama dengan saya tapi kesempatan nya tidak sama. Mereka tidak mampu membuat seperti ini. Sehingga saya ingin agar ada Trainning Center di Timika untuk menjadi saluran berkat bagi Pencaker khusus masyarakat  gunung dan Papua di 5 wilayah adat dan orang Indonesia secara khusus lebih khusus saya ingin menolong orang yang susah,” ungkap Maximus.

Maximus yang juga Presiden Direktur Yayasan Somatua mengaku dengan proses yang begitu rumit, menelan biaya biaya dan pikiran kini sudah berada di indeks keenam, yang menuntut komitmen untuk mengeluarkan biaya yang banyak.

“Aset kita ini hampir Rp13 miliar. Kami juga pernah dapat bantuan dari pemerintah melalui Bupati Mimika. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah membantu kami untuk renovasi tetapi investasi murni saya Rp13 miliar ada di sini, tanah bangunan, aset ruang kelas semua standar cukup berkelas,” jelasnya.

Hari ini (Kamis-red) STC diakreditasi dan berbagai persiapan sudah dibuat.

Termasuk mendaftar ke Kementrian Tenaga Kerja dan disambut sangat positif.

Karena di sini ada Freeport. Katanya Perusahaan banyak tetapi tidak ada fasilitas seperti ini, BLK juga tidak siap.

Katanya, perusahaan banyak permasalahan tetapi ini menjadi satu solusi sehingga pemerintah mendukung dan Dinas Tenaga Kerja.

Karenanya ia menyampaikan terima kasih kepada Disnaker, Dinas Koperasi, Bappeda dan lain-lain yang atas dukungannya.

“Saya investasikan uang di sini (STC) tadinya Rp 13 miliar sekarang omsetnya naik menjadi Rp17 miliar dan kami butuh dukungan dari pemerintah kerjasama dan swasta di sini untuk membantu,” katanya.

Lanjutnya, dengan perkembangan daerah khususnya menuju Papua Tengah, maka dibutuhkan kemampuan dan pendidikan yang memenuhi standar, salah satunya dengan menyiapkan SDm Papua agar bisa bersaing.

Ia mengaku bisnis yang dijalani termasuk suplay tenaga kerja dilakoni baru 4 tahun terakhir. Ia juga meminta agar perusahaan yang ada lebih care terhadap orang papua sebagai yang punya hak di atas tanah ini.

“Kalau kita bicara tentang pemberdayaan orang Papua kita butuh bukti nyata butuh komitmen bukan kata-kata saja, bukan hanya di atas kertas tapi membutuhkan komitmen. Untuk itu saya punya komitmen,” katanya.

Dirinya juga mengajak semua elemen kolaborasi membangun orang Papua. Ia mengajak pemerintah, BUMN maupun swasta secara mandiri dengungkan semangat Eme neme Yauware, membangun Papua bersama tetapi jangan mengambil hak-hak orang asli Papua.

“Saya orang di sini saya mau bilang bahwa bukan karena saya orang gunung bukan karena ini tanah saya tapi mari kita bersama-sama membangun dari sedikit berkat yang kita miliki kita berbakti kepada bangsa dan negara tetapi tidak lupa juga untuk orang asli Papua,” ungkapnya.

Lanjutnya melalui akreditasi untuk STC hari ini (kemarin, red) ia berharap,sesuai dengan harapan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan provinsi dan juga harapan orang Papua yang ingin merubah kehidupannya. Dan dukungan masyarakat papua termasuk masyarakat 7suku.

Training Center berdiri dari mimpi 2010 tapi baru berjalan 2016 dan di tahun 2018 diseriusi dan melibatkan guru yang memiliki kompetensi dari SMK Kuala kencana.

Dirinya optimis akreditasi ini tidak akan sia-sia karena kerja sungguh-sungguh, tujuannya jelas untuk menolong orang kita bersaing sehat.

Disini, secara mekanisme dan prosedural oleh Kementrian, standar BLK ada pembayaran namun ada toleransi bagi mereka yang tidak mampu membayar.

Saat ini ada 67 tidak lulus pendidikan formal yang sedang dibina tanpa dipungut biaya. Dan tujuh diantaranya tidak tahu baca tulis. Maka hadirnya Yayasan Somatua artinya memberikan terang. “Nah ini kita memberikan terang kepada orang-orang yang membutuhkan jadi kita punya toleransi kita punya komitmen yang paling dalam untuk menolong,” ungkapnya.

Doktor Suryani Surbakti M.SE selaku pegarah dan pendamping STC mengatakan

Somatua artinya terang bagi orang banyak berperan bagaimana pengembangan STC untuk dapat memiliki standard kompetensi dan standar nasional.

“STC sendiri sudah berdiri tiga tahun sampai sekarang sehingga banyak hal kita lalui sebagai pusat latihan. Yang pertama adalah ijin penyelenggaraan nya, ijin operasional dan bagaimana legalitasnya hatus kita dapat dari Kementerian Tenaga Kerja.

Dan semua harus terstandar artinya semua yang lulus dari  STC diakui karena  standar kompetensi nasional,” ungkapnya.

Katanya kebutuhan itu dibangun sesuai kebutuhan user dunia kerja.

Jadi akreditasi itu dinilai, apakah sudah sesuai dengan standar yang ditentukan atau tidak.

Lanjutnya, persiapan untuk akreditasinya sudah berjalan satu tahun.

“Jadi kalau besok kita divisit berarti kita sudah terstandar. Tetapi kan harus ada cek lapangan, bagaimana kesiapan di lapangan, bagaimana siswa kita dilatih,” ujarnya.

Sehingga lembaga ini legal karena semua yang diminta oleh kementerian sebagai pusat pelatihan untuk siap kan tenaga kerja yang siap dipakai.

Jadi bagaimana misi kita mengembangkan lembaga pelatihan ini menjadi profesional dan berdayasaing dan berwawasan lingkungan.

STC dengan misi menciptakan siswa yang memiliki kompetensi, mandiri jadi kita mau ada standar nasional sehingga tidak hanya bekerja di Timika tapi juga di daerah lain.

Akreditasi akan dilakukan oleh komite untuk akreditasi dari propinsi Papua. Disini instruktur sudah tersedia dan diakui.

Doktor Suryani Surbakti M.SE, merupakan  dosen tetap di Uncen namun tiga tahun MoU dengan Uncen dan STC.

Sedangkan Paulus Perianus Tipigau Kepala Operasional STC, mengungkapkan, saat ini intect (angkatan -red) yang sudah dijalankan selama training saat ini 86 siswa.

Jumlah pertama ada 9 orang, kedua 15 orang, ketiga 72 orang, intect ke empat ada 15 orang dan kelima ada 46 orang. Saat ini ada 86 orang. Jadi train semakin naik sejak  informasi tentang perkembangan  kerja training makin banyak antusias orang untuk ikut training.

Jurusan yang dibuka, adalah  konstruksi, mekanik, welder, elektrik, pagiter,drillir dan Safety K3, namun akan ikuti perkembangan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan terutama Freeport.

“Jadi kita disini arahkan sesuai permintaan perusahaan. Makin banyak orang yang datang sehingga kita juga batasi meski banyak antrian. Dan lebih utamakan tujuh suku,” tuturnya.

Sementara salah satu siswa Ari Waker mengaku tidak lulus SMP namun dapat diterima di STC. Dengan dilatih oleh instruktur yang berpengalaman.

“Saya satu bulan ikut traning. Saya petani tapi disini dilatih konstruksi. Terimakasih sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk dididik disini,”ujarnya. (a32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *