Bertepatan Hari Lahir Pancasila, Panti Asuhan St. Susana Pindah Lokasi

Spread the love

CERIA – Anak-anak Panti Asuhan Santa  Susana terlihat ceria sepulang sekolah mengenakan pakaian pramuka. Foto ini diambil dengan latar bangunan panti yang tengah dibangun oleh donatur, Sabtu (11/6). Foto: Antonius Djuma/TimeX

TIMIKA,TimeX

Bertepatan pada momen sejarah masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2022 lalu, Panti Asuhan Santa Susana dibawah naungan Yayasan Peduli Kasih Mimika, binaan Komunitas Sahabat MGR. Gabriel Manek SVD (SMGM) Timika Papua, mengukir sejarah dengan resmi berpindah lokasi ke Jalan Poros SP2-SP5 Gang Petra Kompleks belakang Kantor Disperindag, Kampung Ninabua Timika, Distrik Mimika Baru.

Baca juga : Panti Asuhan Santa Susana Asuh 41 Anak Broken Home

Baca juga : Semarakkan HUT ke 76 RI, Panti Asuhan Santa Susana Gelar Aneka Lomba

Sebelumnya hampir tujuh bulan, sejak diresmikan 9 Desember 2021 lalu berada di Jalan Budi Utomo, Kompleks Biara Suster PRR, belakang Kantor Rehabilitasi Kehutanan, Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika.

Memilih pindah panti asuhan atas keputusan pribadi Magdalena Ema Nunang, S.Pt, selaku pendiri Yayasan, Pembina dan Kepala Panti Asuhan, tanpa ada rapat dewan yayasan dengan alasan mau memberikan pelayanan terbaik terhadap anak-anak agar aman dan nyaman sesuai visi dan misi pendiri di atas tanahnya sendiri.

Pemindahan ini secara resmi diawali ibadah syukur pelepasan dipimpin Koordinator Tim Pelayan Tuhan Yesus Timika Agnes Sampe Roge. Dihadiri para Suster PRR dan Tim Pelayan Tuhan serta Pengurus Yayasan Peduli Kasih Mimika dan seluruh penghuni panti asuhan, para donatur maupun simpatisan yang selalu berbagi kasih bersama anak-anak panti asuhan.

Baca juga : Panti Asuhan Santa Susana Bentuk Karakter Anak Sejak Usia Dini

“Alasan dipindahkan karena kami yang melayani anak-anak setiap hari memiliki keterbatasan waktu dan fasilitas serta tempat di situ adalah milik Suster PRR,” ujar Magdalena kepada Timika eXpress di lokasi panti yang baru, Sabtu (11/6).

Magdalena mengungkapkan lokasi yang baru ini merupakan tempat sendiri lebih nyaman dalam memberikan pelayanan kebutuhan terhadap anak-anak yang diasuh.

“Tujuan kami pindah hanya ingin supaya anak-anak maupun mereka yang bekerja melayani anak-anak lebih merasa nyaman. Karena dalam menjalankan pelayanan ini lebih banyak melibatkan anak-anak dalam rumah sendiri. Begitupun tim doa yang dikoordinir oleh ibu Agnes Sampe Roge, mereka menjadi sukarelawan yang datang dengan cara mereka untuk membantu dan menyapa anak-anak ini,” paparnya.

Tim doa tangani pakaian

Untuk seluruh kebutuhan pakaian anak panti katanya, tim doa ini yang mengambil alih, sedangkan yang ada di panti asuhan hanya bertugas mengurus kebutuhan makan minum, menemani anak-anak belajar khusus yang sudah sekolah dan menjaga anak-anak.

Dikatakan, saat ini tukang sementara membangun satu bangunan sederhana untuk tempat tinggal anak-anak adalah murni bantuan dari donatur yang datang menawar secara suka rela bukan atas permintaan panti asuhan. Ini bukti berkat Tuhan yang diterima melalui tangan-tangan kecil dari orang-orang yang menaruh kepedulian terhadap masa depan anak-anak panti ini.

Bangunan yang mereka bangun ini, pihak yayasan hanya mengikuti saja karena semua rancangan sudah disiapkan oleh penyumbang, termasuk material dan tukang.

Prinsip dari donatur lanjutnya, bahwa apa yang dibangun ini bisa memberikan manfaat dan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak ini tinggal maupun bermain.

Mengasuh 33 anak

Saat ini katanya, jumlah anak yang diasuh ada 33 orang terdiri dari 14 perempuan dan 19 laki-laki. Lalu yang sudah masuk sekolah 15 anak, terdiri dari sepuluh orang SD Kelas 1 dan lima anak TK, dan rencana tujuh anak lagi masuk TK tahun ajaran baru 2022/2023 ini. 15 anak ini sekolah di SDN 4 SP 1, namun rencananya masuk tahun ajaran baru pindah di SDN 8 Kompleks Waker SP 2 samping GOR Futsal dan sudah hubungi pihak sekolah. Ini supaya lebih dekat dengan panti. Sedangkan bagi anak yang masuk TK bisa di TK Negeri SP 2 atau didaftarkan di TK Santa Sisilia SP 2 Jalur 4 milik WKRI Kelompok Kategorial Paroki Santa Sisilia SP 2. Semua anak ini sudah memiliki Kartu Identitas Anak (KIA) yang diurus oleh Dinas Pencatatan Sipil dan Kependudukan (Dispencapil).

“Tahun ini kita ada tambah empat orang lagi masuk TK. Ada dua orang sudah tamat TK mau masuk SD kelas 1 dan sisa tiga lalu tambah dengan empat yang baru masuk ini menjadi tujuh anak. Maka ada 21 anak semua sudah sekolah,” tuturnya.

Kemudian yang bayi umur empat bulan ada satu orang.

Untuk perhatian dari para pemerhati peduli anak-anak panti katanya, sejak pindah ke lokasi baru ini hanya dari tim pelayan Tuhan dan donatur tunggal yang selama ini setia membantu sewaktu masih di SP 1.

Ia mengatakan pada 17 Juni nanti ada ikatan para isteri karyawan Kuala Kencana datang mengunjungi panti yang bertepatan dengan HUT salah satu anak panti.

Kunjungan orangtua dibatasi

Selain itu katanya, kunjungan orangtua anak-anak selama ini diijinkan tapi dibatasi hanya komunikasinya lewat telepon, karena biasanya ketika orangtua atau keluarganya datang saat pulang selalu anak-anak juga ikut kabur bersama keluarganya.

Tetapi sejak pindah di lokasi baru ini belum ada orangtua atau keluarganya yang datang, namun komunikasi pihak yayasan dengan keluarganya terus terjalin setelah tiga hari, untuk menginformasikan keberadaan anak-anak. Bahwa bagi orangtua yang mau datang mengunjung bisa menghubungi pihak yayasan.

Wanita asal Pulau Lembata, NTT ini menjelaskan, kedepan bagi anak-anak yang sudah diberikan sekolah lalu pihak keluarga hendak datang mengambil kembali tidak menjadi masalah, hanya saja pihak yayasan akan memberikam beberapa syarat yang wajib dipenuhi, misalnya kebutuhan pendidikan, kesehatan dan lainnya harus diperhatikan sama seperti anak ada di panti.  Begitupun dengan beberapa anak yang sebelumnya tinggal di panti lalu diambil pulang oleh keluarga hingga saat ini pihak panti masih terus memantau perkembangannya. Mulai dari pendidikan, kesehatan maupun keseharian mereka.

Karena bagaimanapun pihak panti masih memiliki tanggung jawab atas masa depan anak-anak itu, karena sudah pernah sama-sama hidup sebagai anak panti asuhan dengan segala kebutuhannya dipenuhi, jangan sampai setelah tinggal dengan keluarga semuanya diabaikan, diperlakukan tidak wajar apalagi pendidikannya tidak diperhatikan itu menjadi sangat disayangkan.

Ada klinik yang bersedia merawat

Bagi anak-anak yang mengalami sakit, sejak peresmian 9 Desember 2021 sudah ada Dokter Elisabeth Pakilaran dan keluarga yang adalah pemilik dan Pimpinan Klinik Medika Bakti Timika menyatakan sendiri sebagai penjamin merawat dan mengobati anak-anak. Mereka sebagai pelaku kasih yang secara sukarela menangani  anak-anak dan pengasuh saat sakit dengan memberikan pelayanan pengobatan gratis. Namun meskipun mendapat pelayanan gratis dari Klinik Medika Bakti pihak yayasan tetap komumikasi dengan dr. Faustina Helena Burdam, MPH selaku Koordinator Kesehatan Panti.

“Jadi anak sakit, kami panti tinggal menghubungi klinik dan petugas melayani anak-anak gratis. Pernah ada anak yang opname selama tiga hari itupun bebas biaya. Begitupun ada pengasuh anak yang sakit diobati tapi dibebaskan biayanya,” katanya.

“Ini saya berbicara kenyataan apa yang sudah panti alami. Semuanya terjadi dengan sendirinya bukan atas usulan kami panti. Saya percaya itulah cara Tuhan menyapa anak-anak kami dengan caranya sendiri,” tambahnya.

Ia menyadari mendukung keberlangsungan panti ini banyak tangan kecil yang dipakai Tuhan untuk membantu anak-anak ini.

Selain itu katanya, pihak panti juga mendapat bantuan alat tes malaria dari TNI AD namun sekarang stoknya sudah habis. Sekaligus diajarkan bagaimana mengambil darah untuk tes mengetahui hasil ujinya. (antonius djuma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *