Pastor Amandus: Selamat Paskah, Selamat Bangkit

Spread the love

PASKAH-Nampak suasana khusuk perayaan malam Paskah di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Sabtu (16/4)

Hormati dan Hargai Mimika Wee

TIMIKA, TimeX

Perayaan Paskah atau kebangkitan Yesus Kristus bagi umat kristiani, khususnya orang Katolik menegaskan bahwa dengan kebangkitan Yesus, kematian itu menghilang, kegelapan maut itu dilenyapkan oleh-Nya (Yesus).

“Terang kebangkitan bersinar cerah. Mari kita ucapkan selamat Pesta Paskah, selamat bangkit kepada Yesus,” ungkap RD Amandus Rahadat,Pr saat memimpin misa malam Paskah di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Sabtu (16/4).

Dari pernyataannya ini, faktanya ada banyak orang di jaman ini, termasuk kita di Timika bahkan di Paroki Katedral ini kelihatn hidup, tapi sebenarnya sudah mati.

“Mati rasa. Rasa hormat terhadap hak orang lain, maka pantas pada malam ini, kita saling mengucapkan selamat Paskah, selamat bangkit,” kata Pastor Amandus.

Disebutkannya, fakta-fakta kematian berdasarkan latar belakang sejarah, yakni Kota Timika ini berada di daerah Mimika. Ingat! daerah Mimika bukan daerah tidak bertuan.

“Bukan orang Mimika, apakah itu orang Papua non Mimika, yakni orang Papua dari Mee, Dani, Amungme dan seterusnya, dan juga orang-orang pendatang, baru ada di tanah ini. Sementara orang Kamoro sudah lebih dahulu ada di tanah ini,” katanya.

Menilik sejarah, tahun 1920-an, misionaris Belanda datang ke tanah ini (Mimika-Red) dengan membawa banyak guru dan tenaga tukang.

“Mereka datang orang Kamoro sudah ada,” sebutnya.

Menyusul, di tahun 1960-an, sebagian orang guru Amungme, kelompok pertama turun ke dataran rendah  di bawa mendiang Mozes Kilangin dan mereka ditempatkan di Agimuga yang adalah tanah Kamoro, bukan Amungme.

“Mereka turun dari lembah Tsinga dan lembah Noema dan tinggal disini (Mimika),” jelasnya.

Selanjutnya di tahun 1973, kelompok kedua juga  orang gunung turun ke Timika dan tinggal di Kwamki Lama kini Kwamki Narama dan Kwamki Baru.

Setelahnya, tahun 1986-1999, transmigran mulai berdatangan, baik dari Jawa, Flores, dan beberapa daerah lain.

“Artinya apa? Mimika ini adalah orang Mimika. Mimika Wee, orang Kamoro. Hargai dan hormati mereka,” kata Pastor Amandus yang juga Pastor Paroki Katedral Tiga Raja.

Dikatakan pula, dalam konteks hak kepemilikan atas tanah Mimika, maka dengan tegas disampaikan bahwa fakta kematian sedang berlangsung di tanah ini.

Persoalan tanah menjadi fakta pertama.

Pasalnya, banyak orang Papua maupun pendatang dengan seenaknya mengkapling-kapling tanah orang Mimika atas namanya, dan ini fakta kematian yang luar biasa.

Adapula kata Pastor Amandus, pemilik modal dan pebisnis bekerja sama dengan pihak yang punya power atau kekuasaan, dan dengan cara halus dan diam-diam menguasai puluhan bahkan ratusan hektar tanah orang Kamoro dengan cara yang sangat miris.

“Kasih minuman, orang mabuk suruh tanda tangan surat pelepasan, bahkan dikasih makanan seadanya. Ini fakta kematian. Kalau anda belum tahu, malam Paskah ini anda harus tahu,” tegasnya.

Fakta kedua masalah pemerintahan.

Menurut Pastor Amandus, seharusnya banyak anak Mimika berada di lingkungan birokrasi (pemerintahan), entah sebagai pejabat, dan minimal sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Tapi pada kenyataan, atau faktanya, Mimika Wee yang berada di pemerintahan bisa dihitung dengan jari. Ini fakta kematian. Seharusnya banyak anak Mimika duduk di badan terhormat, DPRD, karena ini tanah Mimika. Kamu lihat anggota DPRD yang ada, siapa mewakili siapa? Ayolah mari kita fair, siapa mewakili siapa. Orang Kamoro di DPRD Mimika mungkin hanya Nurman Karupukaro, lain tidak ada, dan ini fakta kematian,” tegasnya lagi.

Fakta ketiga yaitu masalah pemerataan pembangunan.

Sepanjang menjalankan tugas pastoral Mimika sejak tahun 1980-an, hingga kini Pastor Amandus menyatakan belum ada perubahan pembangunan berarti di Kokonao yang dijuluki Kota Tua di Mimika.

“Mari benahi diri dan berusaha untuk menemukan simpul-simpul kekuatan dan kelemahan ada dimana. Kebenaran dan kejujuran selama ini ada dimana. Kesucian dan kedosaan selama ini ada dimana. Kemudian mohon ampun untuk ke depan lebih bagus,” harapnya.

Lebih lanjut dikatakan, tema puasa dan Paskah  tahun ini ‘Berjalan Bersama Menuju Hidup Baru’, dan sub tema yang ditawarkan Keuskupan Timika, ‘Buanglah Ragi yang Lama Supaya Kamu Menjadi Adonan yang Baru” (1 Kor:5-7).

Berangkat dari sabda kematian yang sedang berlangsung di tanah Mimika, berangkat dari kegiatan rekonsialisasi warga Kamoro di Kokonao, dan berangkat dari tema dan sub tema Paskah 2022 serta memperhitungkan wacana Provinsi Papua Tengah, dimana Mimika menjadi ibukota provinsi kalau jadi, maka apa pesan Paskah tahun ini untuk kita.

Pesan pertama yang disampaikan Pastor Amandus kepada kita semua diserukan, bangkitlah dari kematian rohani yang sedang melanda tanah ini.

Khusus orang Kamoro, bangkitlah! kamu harus menjadi tuan di atas  tanahmu sendiri.

“Kamu yang harus lakukan, jangan berdiri di sudut-sudut rumah orang, jangan berjalan sembarangan di jalan-jalan, apalagi memalak orang. Anda harus jadi tuan, tuan di atas tanahmu,” serunya.

Sementara kepada masyarakat pendatang, Pastor Amandus berpesan, baik pendatang Papua non Mimika, maupun pendatang migran, bangkitlah dan milikilah kesadaran bahwa saat ini anda berada di tanah orang Kamoro, bukan di tanahmu.

“Anda tidak di Kei, di Toraja, di Jawa, anda juga tidak di Sumatera, di Sulawesi, tapi anda berada di tanah orang Kamoro. Sadar itu!, maka, hargailah orang Mimika yang punya tanah ini. Jangan main kuda kayu terhadap orang Kamoro, dengan gerakan-gerakan tambahan berupa bisnis perampasan lahan. Setelah Uskup Saklil meninggal, dan dorang baku cakar tanah di Irigasi. Pendatang, mari kita stop. Stop dengan tindakan penodongan lahan terhadap orang Kamoro. Boleh cari makan di tanah ini, silahkan, orang Kamoro tidak larang, tetapi jangan merampas darah dan air mata pemilik hak ulayat tanah ini,” tegas Pastor Amandus dengan suara lantang.

Pesan kedua, berjalanlah bersama Mimika Wee.

Orang Mimika itu terkenal dengan falsafah hidup ‘Iwoto Pia’ (Sayang Sesama) menuju hidup baru. Lebih-lebih menyongsong provinsi baru dengan semua aksi yang nyata dan tegas, buang ragi lama, ragi pelecehan terhadap penduduk asli tanah ini.

Jangan anda salah gunakan falsafah hidup orang Kamoro yang Iwoto Pia, lalu anda manfaatkan Iwoto Pia sebagai kelemahan Mimika Wee.

“Tanda Iwoto Pia itu apa? Banyak diam, tidak bersuara, itu orang Kamoro, dan karena itu mereka biacara sebagai malas dan sebagai suku yang tidak punya power (Kekuatan). Tapi anda harus yakin sekarang, akan datang harinya orang Mimika akan bangkit dan gereja harus mendukung orang-orang yang tampil untuk mengantar mereka,” paparnya.

Sebagai pastor yang ditahbiskan perdana di tanah ini, Kamoro-Mimika, bahkan diangkat sebagai anak adat, Pastor Amandus Ranadat menyatakan komitmennya,  ‘saya akan mati untuk orang Kamoro’.

Pesan kedua ini, konkritnya kepada pendatang orang Papua, maupun pendatang dari luar, dipesankan agar jangan ambil semua yang menjadi hak pemilik tanah ini.

“Hak apa?, ya hak atas tanah mereka (Kamoro) lah, jangan ambil semua. Jangan ambil hak atas posisi dan jabatan! bisakah?. Kita beri kesempatan tempat ini, posisi ini, pangkat ini untuk orang Kamoro, bisakah?” seru Pastor Amandus.

Disamping itu kepada pemerintah daerah, eksekutif maupun legislatif, ayolah ciptakan Peraturan Daerah (Perda) yang punya aura keberpihakan kepada orang Mimika pemilik tanah ini.

“Bila perlu langkah-langkah awal disiapkan jatah, ini kursi untuk pemilik tanah ini. Kemudian rekrut anak-anak yang baru selesai studi. Mungkin mereka belum sempurna, belajar dari Gubernur Papua yang saat ini memimpin di Jayapura, semua orang yang dianggap bukan Papua dikeluarkan demi memasukan anak-anak Papua supaya mereka menjadi tuan di tanahnya sendiri. Mimika kenapa tidak. Di provinsi baru ini kenapa tidak?. Berikan kesempatan kepada anak-anak Mimika yang punya potensi dan prestasi untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri,” harapnya.

Pesan terakhir kepada para pengusaha dan pebisnis, serta penguasa yang bekerja sama dengan mereka, ditegaskan jangan rakus di tanah orang.

“Dipinggir jalan, dimana-mana ada papan  dipasang dengan tulisan,  tanah ini milik si A, tanah ini milik si B, mulai dari tanah kering sampai lumpur di mangi-mangi sana, itu ada plang nama dan bukan nama orang Kamoro. Astaga, rakus macam apa ini, terlalu rakus,” sindirnya.

Untuk itu, di malam paskah ini, Pastor Amandus menyapa dan berpesan kepada para pengusaha, pebisnis dan penguasa, boleh anda miliki tanah, tapi jangan terlalu rakus.

“Selamat pesta Paskah, selamat bangkit,” demikian Pastor Amandus.

Misa pertama malam paskah yang dihadiri ribuan umat di Gereja Katedral Tiga Raja diawali dengan prosesi penyalaan lilin paskah, passio (sabda Allah), pembaharuan janji baptis dan pemberkatan serta perayaan ekaristi. (maurits sadipun)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *