Jangan Takut Memberi Kesaksian Tentang Salib Kristus

Spread the love

CIUM SALIB-Umat Katolik Gereja Katedral Tiga Raja Timika mengikuti prosesi cium salib pada misa Jumat Agung, siang tadi.

“Ketika kita datang dan bersujud dihadapan Yesus yang tersalib, baiklah dalam hati kita berdoa, kami menyembah Dikau ya Tuhan Yesus, sebab dengan salib suci-Mu, Engkau telah menebus dunia. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami, terpujilah Engkau ya Tuhan, Kristus yang tersalib, kemenangan kami, kini dan sepanjang masa, amin”

TIMIKA, TimeX

Kematian Kristus yang disalib tentunya harus melahirkan kekuatan dalam hidup iman.

Karena itu, sebagai umat kristiani, jangan takut memberi kesaksian tentang salib Kristus.

“Secara fisik memang Yesus tidak ada, tetapi secara spiritual Yesus sanggup, tumbuh meraja, karena orang-orang akan berpaling kepada-Nya”.

Demikian pesan spiritual yang disampaikan RD Fransiskus Emanuel Da Santos,Pr, saat memimpin misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Jumat (15/4).

Misa Jumat Agung diawali dengan kisah sengsara Tuhan kita Yesus Krisus, diikuti prosesi penciuman salib oleh ribuan umat dengan suasana khusuk dan khidmat.

Setelah ribuan umat Katolik yang mengikuti misa dan mendengarkan serta merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus,Fransiskus Emanuel Da Santos dalam homilinya menyebut, kisah sengsara Yesus Kristus bukan untuk menibulkan rasa haru, tetapi membuat kita makin menyadari bahwa Allah sungguh menyertai kita, selalu bersama kita dalam segala situasi hidup kita.

“Kisah sengsara ini pun bukan sekedar sebuah kisah, melainkan sebuah harapan pada Allah, dan sebagaimana Yesus melalui sengsaranya, Ia memperoleh kehidupan abadi, seperti Kristus yang bangkit dari maut untuk menebus dan menyelamatkan kita,”katanya.

Pesan religi ini menggambarkan Yesus menghayati bentuk kesetiaannya kepada nasib manusia yang berdosa, dan justru kesetiaannya hingga penyerahan diri secara total kepada Bapa-Nya, Yesus mengalami nasib seperti manusia, yaitu kematian.

Tetapi Ia dibangkitkan sebagai tanda penerimaan dan penyerahan diri anak-Nya dan memuliakan Dia dengan anugerah dan mengangkat-Nya ke surga.

Pastor Fransiskus Emanuel Da Santos menegaskan ada tiga hal yang perlu kita hayati dalam merayakan Hari Jumat Agung, yaitu:

Pertama, kasih Allah yang melimpah bagi kita, dan Yesus dikorbankan sebagai ganti kita dan juga menebus dosa kita, dan dengan darahnya Dia mau menghapus dosa kita dan memberi kita pengampunan.

Kedua, dalam nama Yesus kita diselamatkan, tidak dalam hal apapun atau siapapun, tetapi hanya dalam nama Yesus kita yang percaya diselamatkan.

Ketiga, kita diselamatkan untuk menjadi alat, diutus menjadi saksi untuk menyelamatkan orang lain.

Lebih lanjut katanya, dalam kisah sengsara juga ada perjumpaan Yesus dengan Pilatus, ini melambangkan pertarungan dua kekuasaan besar, yakni penguasa dunia fana dan penguasa kerajaan kekal.

“Siapa yang paling berkuasa, masing-masing punya wilayah sendiri. Jelas, Yesus tidak berdaya menghadapi kuasa politis Pilatus yang dapat menjatuhkan eksekusi mati kepada-Nya.

Namun, yang tidak disadari Pilatus, bahwa inilah kesaksian Yesus yang tak akan pernah digantikan, tak akan pernah padam dari detik itu sampai dengan akhir jaman. Orang-orang akan justru percaya kepada-Nya dan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan karena Ia sungguh Sang Raja Agung yang telah mati untuk keselamatan kita manusia,” serunya.

Disini, Yesus sungguh-sungguh mengungkapkan dirinya sebagai raja bagi banyak orang.

Selain itu, misteri sengsara dan kematian Yesus, tidak lain adalah karena cinta-Nya yang sungguh luar biasa.
Sebagaimana Rasul Paulus mengatakan, salib itu batu sandungan bagi orang Yahudi, dan kebodohan bagi orang yang bukan Yahudi, tapi justru merupakan kekuatan bagi mereka dan kita yang percaya.

“Dengan salib memberi makna baru penyerahan diri Yesus tidak menjadi suatu kegagalan, tetapi kemenangan, seperti bijih gandum yang jatuh ke tanah dan mati, akan menghasilkan buah berlimpah,” ujarnya.

Pada hari Jumat Agung ini juga kita diajak untuk merenungkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus.
Peristiwa iman ini adalah tanda solidaritas terbesar dari pribadi ilahi terhadap manusia yang berdosa.

Namun, disini terjadi pengokohan fakta spiritual Kristus sebagai Mesias yang memenuhi keselamatan Allah, dimana Ia bertakhta dihati banyak orang, terutama orang-orang yang bertobat dan berbalik dari kesalahannya.

“Kita harus serta mampu berusaha menjadi bagian dari takhta Kristus itu, kita mau menyembah sujud Kristus yang tersalib, sebab dengan salib-Nya, Ia menebus dan menyelamatkan dunia. Ia menebus dan menyelamatkan kita, tentunya kitapun harus menyerahkan seluruh diri kita, hati dan hidup kita, bahkan mau bertobat dan kembali kepada belas kasih-Nya,” pesan Pastor Fransiskus Emanuel Da Santos.

Dikatakan pula, Yesus rela mati disalib karena dia sungguh mencintai manusia. Dia sungguh mencintai kita agar manusia percaya dan memiliki hidup yang kekal.

Ia sendiri pernah berkata, inilah perintahKu supaya kalian saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Maka, kiranya kita tidak takut dan tidak mau untuk memberikan kesaksian tentang salib Kristus.

“Kiranya kita perlu takut dan malu untuk menandai diri kita dengan tanda salib, juga tidak takut dan malu menggantungkan salib di rumah kita masing-masing. Kita juga tidak perlu takut menggantungkan salib di dada kita dengan penuh kebanggaan. Salib adalah kemenangan, salib adalah keselamatan bagi orang yang percaya,” pesannya lagi.

Karena itu, marilah kita memandang Dia, memandang pada Dia yang telah mereka tikam agar kita memperoleh hidup kekal.

“Ketika kita datang dan bersujud dihadapan Yesus yang tersalib, baiklah dalam hati kita berdoa, kami menyembah dikau ya Tuhan Yesus, sebab dengan salib suci-Mu, Engkau telah menebus dunia. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami, terpujilah Engkau ya Tuhan, Kristus yang tersalib, kemenangan kami, kini dan sepanjang masa, amin. (vis/a33)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *