Enam Bulan, Retribusi Parkir Pasar Sentral Rp700 Juta

Spread the love

BAYAR – Seorang pengendara membayar retribusi kepada petugas di pintu keluar portal Pasar Sentral sebelum portal rusak beberapa waktu lalu. Foto: Dok./TimeX

TIMIKA,TimeX

Selama enam bulan (Januari-Juni), penerimaan retribusi parker Pasar Sentral terkumpul Rp700 juta.

Baca juga : 276 Calon Jemaah Haji Sudah Divaksin

Baca juga : Portal Otomatis di Pasar Sentral Tidak Beroperasi

Setiap pengunjung diwajibkan membayar retribusi parker. Kendaraan roda dua Rp1000, sedangkan mobil Rp2000. Diperkirakan peneriimaan ini bisa melebihi dari target Rp800 juta tahun ini.

Demikian dipaparkan Petrus Pali Amba, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika kepada Timika eXpress usai mengikuti kegiatan di Hotel Horison Ultima, Selasa (6/7).

Ia menjelaskan jika retribusi parkir dipertengahan tahun sudah terkumpul sebesar Rp 700 juta ini angka yang fantastik, retribusi yang ditarik sudah mencapai 84 persen dari target yang sudah ditentukan yaitu Rp800 juta. Secara ototmatis jika sampai di penghujung tahun retribusi akan melebihi target.

Petrus mengaku saat ini penarikan retribusi parkir secara manual sebab portal yang selama ini digunakan baik di pintu masuk maupun pintu keluar Pasar Sentral mengalami kerusakan dan sedang dalam perbaikan.

Tidak Ada Sewa Menyewa Lapak

Selain itu, Petrus juga memastikan saat ini tidak ada lagi sewa menyewa lapak di Pasar Sentral oleh oknum yang hanya mencari keuntungan pribadi seperti halnya terjadi beberapa waktu lalu.

“Saya sudah kumpulkan semua pedagang dan menegaskan kepada mereka jika lapak atau kios yang dipinjamkan pemerintah kepada pedagang untuk berjualan tidak boleh dijual atau disewakan, karena pemerintah pinjamkan untuk kalian berdagang,” ujarnya.

Ia menegaskan jika ditemukan demikian, maka lapaknya ditarik kembali oleh dinas lalu diberikan kepada pedagang yang benar-benar ingin menjelankan usaha.

Petrus menambahkan, semua lapak di Pasar Sentral sebagian besar sudah ada pemiliknya. Namun banyak juga yang masih belum ditempati, karena mereka lebih memilih berjualan di tempat-tempat yang mereka anggap mudah dijangkau.

Penulis : Indri

Editor : Anton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *