Tumang Sagu Raksasa Jadi Ikon Prosesi Pendewasaan Anak-anak di Keakwa

TIMIKA, TimeX

Mimika dengan keindahan pesisir pantai di Kampung Keakwa terus mencuri perhatian, tidak hanya masyarakat lokal tapi juga mancanegara.

Melalui upacara pendewasaan anak (Karapao) sebagai ritus inisiasi sosial-religius putra-putri Kamoro, menjadi media promosi Kampung Keakwa yang terus dimotori Yayasan Somatua, pimpinan Maximus Tipagau-Waukateyau.

Melekatnya marga (klen) Waukateyau pada Maximus Tipagau, menjadi spirit bahkan tantangannya bersama warga setempat terus bersinergi mempromosikan destinasi wisata Kampung Keakwa.

Ada hal menarik saat prosesi adat pendewasaan anak, dimana pihak penyelenggara yang didukung penuh Maximus Tipagau-Waukateyau, juga menghadirkan 19 tumang sagu raksasa.

19 tumang sagu yang diletakan berjejer tepat di depan rumah adat Karapao, yang terpanjang berukuran 5,80 meter.

Tumang sagu raksasa urutan ke 2 dengan panjang 5,60 meter, dan urutan ketiga dengan panjang 4,80 meter, merupakan sagu terpendek dari 19 tumang sagu yang ditampilkan, merupakan buah karya warga dari 10 RT yang mendiami kampung lama dan kampung baru Keakwa.

Yang menjadi unik dan menarik perhatian ribuan pasang mata, tidak hanya warga Kampung Keakwa, tapi juga warga yang berbondong-bondong datang dari Kota Timika dan sekitarnya, semuanya mengaku baru pertama kali menyaksikan tumang sagu terbesar di wilayah Kamoro, Kampung Keakwa.

“Saya memberi dukungan penuh kepada masyarakat Kampung Keakwa, saya pun kaget bahan merinding karena seumur hidup baru pertama kali lihat tumang sagu raksasa. Ritual adat ini sangat istimewa karena semua warga, baik dari kampung lama dan kampung baru ikut terlibat,” ungkap Maximus Tipagau-Waukateyau yang diangkat jadi anak adat Kampung Keakwa pada 27 Mei 2020 lalu.

Maximus menjelaskan, prosesi pendewasaan anak ini melibatkan warga dua kampung tetangga dengan marga Waukateyau dan Moyao, termasuk  marga lain di Kampung Keakwa.

Prosesi dilangsungkan di rumah adat Karapao dengan dua Mbitoro (patung roh) berdiri kokoh tepat di depan,  ini menunjukkan rumah dalam mitos Uwao Nani yakni Tauri Kame, Kaware Kame, Kewa Kame dan Ema Kame.

“Inisisasi karapao berarti memasukan seseorang atau beberapa orang dari anggota masyarakat atau suku ke dalam kelompoknya, sehingga mereka diterima secara sah sebagai bakal calon karapao,” terangnya.

Bahkan melalui karapao seseorang atau kelompok orang Kamoro pun dimasukkan ke dalam struktur sosial tradisional, yakni melalui Tapena, Tauroko dan Karapao.

Adapun tahap akhir dari ritus adat karapao, diikuti dengan pemeriksaan sisa perangkap babi hutan.

Pada tahap ini, daging babi yang diperoleh akan dibagikan kepada kelompok satu generasi atau kerabat dekat.

Adapun tujuan dari tahap ini melambangkan peristiwa regenerasi kekerabatan dalam masyarakat.

Penutupan ritus inisiasi karapao (ipae bataurakemeta) dilakukan acara pemotongan tokong sebagai lambang bahwa ritus inisiasi karapao secara resmi ditutup.

Untuk diketahui, Keakwa yang dikenal sebagai kampung sejarah, masih terdapat banyak benda kuno peninggalan Perang Dunia II, dimana Keakwa merupakan basis pertahanan Jepang untuk melawan sekutu pada waktu itu.

Selain meriam, tank juga bangkai kapal, ini semua menjadi magnet tersediri untuk diketahui, apalagi terdapat di pesisir yang berhadapan langsung dengan Laut Arafura, di Distrik Mimika Tengah.

Untuk bisa sampai ke Keakwa, traveler hanya butuh perjalanan air dari Kota Timika kurang lebih 45 menit menggunakan speed boat atau dua jam dengan long boat.

Selama perjalanan, akan dijumpai panorama indah dan cantik Pulau Puriri dan Bidadari.

Maka tak salah, Keakwa yang artinya ‘Naik Perahu’, jelas menggambarkan keindahan alam yang wajib didokumentasikan setiap orang yang berkunjung ke sana (Keakwa).

Selain hamparan panjang pasir putih mengelilingi Pulau Keakwa, pohon mangrove yang memiliki ketinggian lebih dari mangrove di wilayah sekitarnya, tumbuh subur melindungi pantai termasuk pemukiman masyarakat dari terjangan ombak.

Keakwa pun memberi kharisma tersendiri ketika senja di sore hari yang begitu eksotis

Apalagi saat ini, 10 homestay yang dibangun dengan dukungan penuh Yayasan Somatua, sudah tentu setiap wisatawan semakin dimanjakan.

Pembangunan home stay oleh warga dari 10 RT itu semuanya berbahan dasar kayu, yang menunjukan kearifan lokal masyarakat adat setempat.

“Saya sebagai anak adat mencintai alam saya juga masyarakat dan memaksimalkan potensi yang kita miliki dalam berbagai model ekonomi kreatif sehingga mendatangkan keuntungan bagi masyarakat Keakwa,” tandasnya.

Penulis : Maurits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *